Wednesday, April 18, 2012

FINAL SEASION GUNUNG CIREMAI 3078 Mdpl BAYU BUANA AM 22 BW


Anggota Muda Bharawana dengan nama angkatan “BAYU BUANA” akan melakukan pendakian ke Gunung Ciremai dengan ketinggian 3078 mdpl. dalam rangka melaksanakan program kerja dewan pengurus DP XXI,untuk menutup rangkaian kegiatan mabim -mabim sebelumnya. Jumlah personil yang berangkat adalah 11 orang yang terdiri dari tujuh orang angkatan bayu buana,tiga orang senior bharawana dan satu orang teman dari MADIPALA FIP UNM Makasar. Perjalanan ini dimulai dari sekre Bharawana sekitar pukul 18.14 wib menuju jamika,dan dilanjutkan menuju terminal Maja.Rencana awal setelah sampai di Maja itu kami naik kendaraan bak terbuka untuk menuju Apuy,tetapi karena kondisi yang sudah malam maka kami memutuskan untuk beristirahat sambil mencari transportasi yang menuju Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), beberapa orang dari kami ada pula yang mencari makanan. setelah beberapa lama kami beristirahat kami dihampiri seorang bapak-bapak yang menawarkan kendaraannya untuk berangkat ke Apuy. Setelah tawar menawar akhirnya kami berangkat menuju Apuy dengan memakai mini bus  tiba  di Sekre TNGC (Taman Nasional Gunung Ciremai) sekitar tengah malam.

Friday, December 16, 2011

EKSPEDISI PENDAKIAN GUNUNG LOMPOBATTANG-BAWAKARAENG SULAWESI SELATAN

ekspedisi ini terdiri dari dua angkatan yaitu angkatan XX Kabut Purnama (Fajar ‘Pulung’ Pilantika & Akbar ‘Sotan’) dan angkatan XXI Panthera Pardus (Wahyudin ‘Sersan’, Galih ‘Nguyen’ & Theko ‘Tupai’), Fajar ‘Pulung’ sebagai ketua tim dan dibantu oleh para anggota lainnya dalam melaksanakan ekspedisi ini.
pelepasan tim Ekspedisi
Pendakian Gunung Lompobattang-Bawakaraeng
Sulawesi Selatan

Saturday, September 12, 2009

OPERASI SAR DAN PENANGGULANGAN BENCANA ALAM CIANJUR & PANGALENGAN


-->
Lokasi Operasi I : Ds. Cikangkareng, Cianjur Selatan
Korban Tewas : 14 orang
Korban Hilang : 47 orang
Bentuk Operasi : Pencarian dan Evakuasi Korban
Waktu : 3 – 4 September
JURNAL KEGIATAN
2 September 2009
Terjadi gempa berpusat di 138 Km barat daya tasikmalaya berkuatan 7,3 SR pukul 14.55 WIB. Guncangan gempa dirasakan di Jakarta, Jogjakarta, Pelabuhan Ratu, dan Banjarnegara. Gempa tersebut berpotensi tsunami. Akibat gempa tersebut dilaporkan, jaringan telekomunikasi di Tasikmalaya terputus.
Langkah awal yang dilakukan BHARAWANA adalah melakukan koordinasi dan konsolidasi dalam rangka pengiriman tim ke lokasi bencana.
Maka diputuskan untuk memberangkatkan tim Advance yang bergabung dengan Tim dari Dompet Dhuafa untuk berangkat menuju Pangalengan tim ke dua berangkat ke Cianjur untuk melakukan pencarian korban yang tertimbun tanah longsor akibat gempa yang diperkirakan berjumlah 57 orang

Wednesday, June 10, 2009

KECELAKAAN PENDAKIAN

Telah terjadi 3 kali kecelakaan saat pendakian yang sampai menyedot perhatian media masa baik cetak maupun elektronik sehingga melibatkan operasi pencarian oleh berbagai elemen.


Awal Bulan Februari 2009
7 orang Mahasiswa YARSI (6 orang diantaranya anggota TRIBUANA yaitu organisasi PA di kampus tersebut), dinyatakan hilang di gunung salak (2.211 mdpl)


Mei 2009
22 siswa anggota Pramuka dan satu guru anggota Pramuka dari SMA Negeri I Kakongan, Situbondo, Jawa Timur, serta satu pemandu dinyatakan hilang di Gunung Argopuro (3088 mdpl) saat melakukan kegiatan Napak Tilas

6 orang warga Bekasi, Jawa Barat dan 1 orang pemandu warga Cirebon, dilaporkan hilang di Gunung Ceremai (3.078 mdpl), Kuningan, Jawa Barat

Saturday, March 14, 2009

EKSPEDISI SUSUR PANTAI UJUNG KULON – ANYER


AWAL PERJALANAN
Persiapan untuk menghadapi Ekspedisi Susur pantai ini sudah dilaksanakan jauh – jauh hari sebelumnya, berminggu – minggu kami ditempa baik fisik maupun mental, begitu juga kesiapan kami dalam pengenalan medan serta navigasi, lima hari dalam seminggu kami di tempa dalam Training Center (TC) selama ± 2 bulan, sejalan dengan berlangsungnya TC kami juga disibukkan oleh segala perijinan yang harus segera di selesaikan baik itu dari REKTOR UNJANI, POLRES cimahi,dan BALAI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON.
Tim Ekspedisi Susur Pantai Bharawana diketuai oleh Valentina ‘GANIS’ beranggotakan Hamdan ‘UPIS’ Patra Alam serta tim pendukung Yuyus ‘PURBA’ Sunandar. Menurut perkiraaan sebelumnya, target yang akan ditempuh akan memakan waktu kurang lebih 11 hari terhitung tanggal 04 Oktober 2008 s/d 14 Oktober 2008 tetapi pada kenyataanya kami menyelesaikan ekspedisi ini pada tanggal 15 Oktober 2008. Jum’at tanggal 3 Oktober 2008 pukul 24.00 WIB Tim berangkat menuju terminal leuwipanjang Bandung. Kami tiba pukul 09.30 di legon pakis.

PENYERAHAN TONGKAT ESTAFET



Habisnya masa jabatan Dewan Pengurus XVII BHARAWANA sejak Januari 2009 yang lalu, menyebabkan pembentukan tim formatur dilakukan sesegera mungkin untuk menghindari kekosongan kepemimpinan. Keadaan ini cukup dilematis mengingat BHARAWANA sedang mengalami krisis keanggotaan dalam hal kuantitas. Sebagian besar anggota yang duduk di DP XVII sudah selesai masa perkuliahannya dan sebagian lagi sedang menempuh tahap akhir masa perkuliahan. Boleh dikatakan saat ini BHARAWANA berada dalam masa sulit…meskipun gak ikutan ngantri beli minyak tanah…
GAMPANG-GAMPANG SUSAH
Pilihan kandidat yang ada tinggal 3 orang, dan ini bukan hal yang mudah bagi tim formatur, mengingat ketiga orang anggota ini boleh dikatakan masih belum terlalu matang untuk memegang kendali kepemimpinan BHARAWANA yang sudah berusia 19 tahun ini, sementara di sisi lain, BHARAWANA tidak bisa lepas dari aturan tentang Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa yang diberlakukan di Civitas Akademika UNJANI. Akhirnya pada tanggal 9 Maret 2009, keluarlah keputusan untuk mengangkat Ivan ‘KAMBUY’ sebagai Ketua Dewan Pengurus XVIII BHARAWANA UNJANI untuk periode 2009-2010, menggantikan Edwin ‘DAKEL’ yang telah habis masa baktinya.

Mencumbui Puncak Agung, Rinjani, Tambora Dengan Sepeda (TAMAT)

Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi
Yuyus ‘PURBA’ (BW 11077 BS)
Melintasi Sumbawa
Panasnya suhu di jalanan yang kulalui mewarnai awal perjalananku di pulau yang terkenal dengan madu dan susu kuda liarnya itu. Selama empat jam lebih, aku bertarung dijalanan dari pelabuhan hingga Badas Sumb
awa Besar. Panas, angin dan debu-debu yang menerpa, bahkan kendaraan-kendaraan besar menjadi pemandangan yang mengerikan bagiku dalam perjalanan bersepeda seorang diri ini. “Salut buat Paimo dengan ekspedisi sepedanya merambah melintasi pelbagai negara !”. Waktu menunjukan jam enam sore saat aku berhenti di sebuah pos gerbang jalan menuju hotel yang ada di Badas. Situasi dan kondisi pos pinggir jalan yang memungkinkan untuk dijadikan tempat bermalam, akhirnya menjadi tempat pertamaku di Sumbawa melepas lelah.

Wednesday, February 11, 2009

TRAINING ALAM BEBAS ANGKATAN XIX (PANCARAWANA)


Perubahan Konsep dari DIKLATSAR menjadi Training Alam Bebas yang disepakati beberapa waktu lalu, telah memasukki tahap pelaksanaan. dengan 10 orang peserta yang sebenarnya masih dianggap sangat minim untuk regernerasi, Para Instruktur senior dari BHARAWANA, yang sebelum pelaksanaan TAB telah melakukan pertemuan-pertemuan secara marathon untuk menysun kurikulum formula cara pengajaran, yang akhirnya memberi warna tersendiri. Suasana santai yang diterapkan dalam pemberian materi, dirasakan memberi perubahan dalam penyerapan materi, dan calon anggota terlihat lebih interaktif.

Cukup disayangkan memang, menjelang pelaksanaan lapangan, beberapa peserta mulai rontok alias mundur, hingga akhirnya tersisa hanya 5 orang saja…hmmff…!!!

Menancapkan Aren di Bumi Salada

Fakta yang mengatakan kalau luas hutan di Indonesia semakin berkurang tiap tahunnya adalah benar. Menurut data dari Greenpeace aja, luas hutan di Indonesia berkurang seluas 1 kali lapangan sepak bola setiap harinya. Data itu ditinjau berdasarkan aktifitas illegal logging atau penebangan liar alias tidak resmi alias maling kayu yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pengolah kayu. Namun nampaknya data tersebut belum termasuk aktifitas penebangan liar yang kecil-kecil seperti yang dilakukan oleh masyarakat sekitar hutan.
Sebagai contoh seperti yang terjadi di hutan lindung Gunung Salada, Desa Bojongkoneng, Sentul Bogor. Masyarakat sekitar hutan lindung tersebut masih dengan bebas melakukan penebangan liar. Akibatnya perlahan namun pasti Gunung Salada menjadi gundul dan rawan akan longsor. Lebih dari itu, perbukitan gunung itu dijadikan lahan bercocok tanam, yaitu Singkong.